Arsip untuk astronomi kategori

Hawking Ralat Teori Black Hole-nya

Posted in astronomi dengan kaitan (tags) on Agustus 18, 2008 by firdaussains

Setelah berpikir tanpa henti selama 29 tahun, pakar astrofisika ternama, Stephen Hawking, menyatakan dia telah keliru tentang lubang hitam (black hole). “Lubang hitam tidak menghancurkan segala yang diisapnya, namun mengeluarkan kembali materi dan energi dalam bentuk yang telah tercerai-berai,” terang Hawking dalam Konferensi Internasional Gravitasi dan Relativitas ke-17 di Dublin, Irlandia, Rabu (21 Juli) lalu.

Pada 1976, Hawking pernah mengemukakan teori bahwa lubang hitam terbentuk dari bintang raksasa yang tekanan gravitasinya luar biasa besar sehingga menarik energi dan materi di dekatnya. Energi dan materi itu diyakininya akan musnah ditelan lubang hitam. Teori ini berlawanan dengan teori fisika kuantum yang menyatakan bahwa materi dan energi tidak bisa dihancurkan, namun hanya berganti wujud.

Hawking sempat menyatakan kalau sejatinya materi yang terisap lubang hitam akan mengalir menuju jagad raya baru. Pemikiran ini banyak dipakai dalam cerita-cerita fiksi ilmiah.

Namun, dalam pertemuan yang dihadiri 800 ahli fisika dari 50-an negara itu, Hawking mengubah keyakinan yang pernah dikemukakannya dalam tulisan berjudul The Information Paradox for Black Holes. Sekarang Hawking berkeyakinan kalau lubang hitam menyimpan apa yang diisapnya dalam waktu lama. Setelah lubang hitam rusak dan mati, apa yang pernah diisapnya dipancarkan kembali ke jagad raya dalam keadaan tercerai-berai.

“Tidak ada bagian jagad raya baru seperti yang saya pikirkan. Materi, energi, dan informasi yang terisap lubang hitam tetap berada di jagad raya,” kata ilmuwan 62 tahun ini.

“Saya menyesal telah mengecewakan para penggemar science fiction. Materi yang diisap black hole masih tersimpan sehingga lubang hitam tidak bisa dipakai untuk menuju jagad lain. Bila seseorang diisap ke lubang hitam, massa dan energinya akan kembali ke jagad raya dalam keadaan terurai. Materi tersebut masih mengandung informasi yang sama, namun dalam bentuk yang tidak dikenali lagi,” papar Hawking.

“Saya merasa lega karena telah memecahkan masalah yang menghantui saya selama hampir 30 tahun. Meskipun jawaban (tentang teori lubang hitam) tidak fantastis dibanding teori yang saya utarakan sebelumnya,” kata profesor matematika di Universitas Cambridge ini.

Sumber : Jawa Pos (27 Juli 2004)

Sebuah Komet Tumbuh Lebih Besar dari Matahari

Posted in astronomi dengan kaitan (tags) on Agustus 18, 2008 by firdaussains

JAKARTA, JUMAT – Sebuah komet yang menarik perhatian para pengamat perbintangan dalam beberapa minggu terakhir ini setelah meledak, telah tumbuh menjadi obyek yang berukuran lebih besar daripada Matahari.Matahari adalah benda paling besar dan padat di tata surya yang partikel-partikelnya menjangkau semua planet. Namun ukuran itu tertandingi oleh Komet Holmes yang karena ledakannya, melepaskan begitu banyak debu dan gas sehingga membentuk gumpalan raksasa di angkasa. Partikel-partikel yang dilepaskan komet itu menjadi semacam selubungnya, atau disebut coma, yang kian membesar.

“Benda itu makin membesar dan kini telah menjadi obyek tunggal terbesar di tata surya,” ujar para astronom Universitas Hawaii. Diameter coma pada 9 November 2007 tercatat sebesar 1,4 juta kilometer, berdasarkan pengukuran Rachel Stevenson, Jan Kleyna dan Pedro Lacerda dari Institut Astronomi Universitas Hawaii. Sementara diameter Matahari kurang lebih 1,392 juta kilometer.

Dalam pengamatan menggunakan Teleskop Ruang Angkasa Hubble, tampak suatu struktur seperti dasi kupu-kupu di sekitar inti komet. Partikel-partikel sangat kecil yang menjadi coma di Komet Holmes tampak terang benderang karena terpapar sinar Matahari.

Di beberapa lokasi, Komet Holmes bisa diamati menggunakan mata telanjang pada petang hari di langit timur laut, dan akan tampak seperti bintang redup. “Kini ia akan terlihat seperti gumpalan awan,” kata Joe Rao, kolumnis Space.com. Rao menyarankan agar pengamat melihat komet itu akhir minggu ini, sebelum Bulan terbit. Setelahnya Komet Holmes akan semakin redup namun masih bisa terlihat sampai dua atau tiga minggu mendatang.

“Hingga beberapa minggu mendatang, selubung dan ekor komet akan menggelembung seiring dengan penyebaran debunya lalu semakin redup,” tulis Stevenson dan rekan-rekannya.

Pada hari Senin, 19 November, akan tercipta pemandangan langit yang menakjubkan. Menurut Spaceweather.com, komet akan lewat di depan bintang Mirfak atau Alpha Persei, sehingga tampak seolah menelannya.

Ledakan Misterius

Tak seorangpun tahu mengapa Holmes meledak, meski kejadian serupa pernah terjadi tahun 1892. Ledakan kali ini, yang dimulai sejak 24 Oktober lalu, menjadikan benda langit yang biasanya redup itu menjadi salah satu obyek paling terang di langit malam. Cahayanya lalu makin hilang ketika material ledakannya menyebar dengan kecepatan 0,5 km/detik.

Uniknya ledakan komet itu terjadi dari inti padat komet yang terbuat dari batu dan es dengan diamater hanya 3,6 kilometer saja. Namun komet itu berada sangat jauh dari Bumi, yakni sekitar 240 juta kilometer atau kurang lebih 1,6 kali jarak Bumi-Matahari, sehingga teleskop Hubble sekalipun kesulitan melihat inti komet.

Berdasar bentuk coma yang menyelubunginya, diperkirakan ada bagian komet yang terlepas dan terpecah menjadi partikel-partikel debu setelah berpisah dengan inti komet. Tetapi jarak yang jauh ditambah debu yang menutupinya, telah menghalangi Hubble untuk melihat pecahan tersebut.


Sumber: Space.com
Penulis: wsn

Komet

Posted in astronomi dengan kaitan (tags) on Agustus 14, 2008 by firdaussains
Taufiq (Klub Astronomi Bondowoso)

 

PADA tahun 2004 ada dua komet yang bisa diamati dengan mata telanjang. Hari ini, 7 Mei, salah satu komet itu mencapai kecerlangan maksimum.

Komet atau bintang berekor adalah anggota Tata Surya yang mempunyai orbit hiperbola. Ekornya kian panjang bila mendekati Matahari. Begitu panjangnya hingga bisa mencapai 150 juta kilometer, atau sejauh jarak Bumi-Matahari atau biasa dinamakan 1 Satuan Astronomi (SA). Dengan begitu komet bisa dibilang anggota Tata Surya terbesar.

Di tahun 2004 ada dua komet yang bakal bisa diamati dengan mata telanjang, yaitu Komet C/2001 Q4 (NEAT) dan C/2002 T7 (LINEAR). Dengan bantuan teleskop kecil dan binokular, kedua komet tersebut sudah bisa diamati sejak Februari lalu. Mulai bulan Maret, baru bisa diamati dengan mata telanjang setelah kecerlangannya lebih kecil dari 6 magnitudo semu.

Magnitudo adalah skala kecerlangan obyek langit yang terlihat oleh pengamat, semakin kecil magnitudo maka akan semakin terang. Perbedaan sebesar 5 magnitudo setara dengan perbedaan kecerlangan 100 kali. Obyek terlemah yang bisa diamati oleh mata telanjang di langit memiliki magnitudo 6,5. Sebagai perbandingan magnitudo semu matahari sebesar – 26,8 dan bintang langit malam terterang, yaitu Sirius sebesar – 1, 46. Rata-rata bintang yang terang bermagnitudo dari 1 hingga 2.

Komet NEAT ditemukan pada 28 Agustus 2001 melalui program Near Earth Asteroid Tracking (NEAT), saat itu magnitudonya 20 setara dengan 400 ribu kali lebih lemah dari bintang teredup yang bisa diamati dengan mata telanjang. Namun, pada bulan April akan memiliki magnitudo sebesar 1-2 dan mencapai kecerlangan maksimum pada 7 Mei 2004, saat sejarak 48 juta kilometer dari Bumi. NEAT bergerak dalam arah rasi Canis Mayor, melewati Cancer, dan tiba di arah Ursa Mayor pada akhir Mei. Bisa diamati setelah matahari terbenam dari arah Barat-Utara bola langit. Lalu, sekitar tanggal 12-16 Mei ada pemandangan yang menakjubkan dikarenakan keberadaan empat planet terterang, yaitu Venus, Mars, Saturnus, dan Yupiter di sekitar komet.

Adapun Komet LINEAR ditemukan melalui program Lincoln Laboratory Near Earth Asteroid Research (LINEAR) pada 29 Oktober 2002 dan akan mencapai kecerlangan maksimum 19 Mei 2004 pada jarak 40 juta kilometer dari Bumi. Komet ini bergerak dari arah rasi Pisces melewati Cetus, Eridanus, dan Lepus menuju Canis Mayor. Pada pertengahan April hingga awal Mei, komet ini bisa dilihat pagi hari di arah timur. Setelah itu, komet akan terlihat di arah Barat, setelah matahari terbenam.

Kedua komet tersebut bisa dinikmati pemandangannya selama bulan Mei dengan mata telanjang bila kondisi langit cerah. Memasuki bulan Juni, kedua komet tersebut menjauhi Bumi dan Matahari.

Asal-usul

Ternyata ada kepercayaan yang mengaitkan kedatangan komet dengan munculnya bencana, seperti wabah, peperangan, dan paceklik. Dalam rekaman Babad Tanah Jawi dikisahkan pertarungan keris pusaka Kyai Sangkelat dan Kyai Condongcatur milik kerajaan Majapahit. Ternyata, Kyai Condongcatur kalah dan ujung kerisnya patah. Kemudian oleh Prabu Brawijaya, Raja Majapahit waktu itu, keris itu diperbaiki dengan cara ditempa. Sesaat akan dipalu, Kyai Condongcatur melesat ke langit, berubah menjadi komet dan mulai melakukan balas dendam dengan menurunkan bencana.

Beberapa contoh yang mengaitkan komet dengan bencana adalah peristiwa kedatangan Komet Ikeya-Seki pada tahun 1965 dengan G30S PKI. Lalu, kejatuhan kerajaan Normandia pada tahun 1066 oleh kerajaan Inggris.

Kehadiran ilmu pengetahuan modern menjadikan manusia bisa memandang kedatangan komet secara rasional. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah dari mana asalnya komet itu?

Adalah seorang astronom Belanda, Jan Oort mengemukakan teori bahwa Tata Surya dikelilingi awan dengan jari-jari antara 50.000 SA-100.000 SA. Awan ini tersusun dari materi berukuran kecil yang menjadi tempat pembentukan dan kemunculan komet. Untuk menghormati Jan Oort, awan itu lalu dinamai Awan Oort, dengan perkiraan populasi komet sekitar seratus triliun dan bermassa total 10-100 kali massa Bumi. Akibat gangguan bintang-bintang sekitar Matahari terhadapnya, sebagian materi awan jatuh ke bidang Tata Surya, selanjutnya tertarik oleh gravitasi Matahari dan bergerak ke pusat Tata Surya.

Fred L Whipple, astronom dari Universitas Harvard, mengusulkan pertama kali di tahun 1950 mengenai struktur komet yang berupa gumpalan es kotor (Dirty Snowballs) berdiameter 1-10 kilometer karena tersusun dari beragam senyawa seperti karbondioksida, sianida, amonia, metana, air, serta berbagai macam logam yang bercampur dengan debu dan batuan.

Ketika komet bergerak mendekati Matahari pada jarak kurang dari 3 SA, muncullah selubung gas dan debu yang berukuran 100.000 hingga 1 juta kilometer, yang dinamai Coma. Dalam bahasa latin Coma berarti ‘rambut’. Dari kata inilah sebutan komet berasal. Gas dalam Coma beragam seperti CO, CO, HCN, CH, CN, air dan formaldehid. Coma ini diselubungi oleh awan hidrogen berukuran jutaan kilometer yang muncul dari disosiasi radikal hidroksil (OH) akibat radiasi Matahari pada materi yang ada di Coma.

Saat jarak komet kian dekat ke Matahari muncullah ekor komet akibat partikel-partikel yang dipancarkan Matahari (embusan angin Matahari) menguapkan materi yang menyelubungi inti komet. Ada dua jenis ekor Matahari, yaitu ekor ion yang arahnya selalu menjauhi Matahari (segaris arah Matahari-komet), dan ekor debu yang berarah melengkung ke Matahari, akibat tarikan gravitasi Matahari. Meskipun ekor itu sedemikian panjang, kerapatannya amat kecil, bahkan lebih kecil dari kerapatan ruang hampa yang mampu dibuat di Bumi.

Semakin dekat ke Matahari, maka ekor komet kian panjang. Materi yang hilang pun kian banyak. Sebaliknya, ketika menjauhi Matahari, ekor komet memendek. Komet pun kembali ke bentuk semula, namun dengan massa yang telah berkurang, ketika berada jauh dari Matahari menuju ke tempat asalnya.

Namun, tidak semua komet memiliki nasib seperti itu. Ada komet yang ditakdirkan hancur akibat gravitasi Matahari seperti Komet West yang ditemukan pada tahun 1976. Selain gravitasi Matahari, juga ada yang tertarik oleh gravitasi planet raksasa, Yupiter, yaitu Komet Halley. Komet yang terkenal ini dihitung elemen orbitnya oleh astronom Inggris, Edmund Halley, pada tahun 1705 dan ditemukan periode orbitnya yaitu setiap 76 tahun sekali. Komet yang juga mengitari planet raksasa akan memiliki bentuk orbit yang amat eksentrik, kelengkungannya besar.

Dalam catatan sejarah, pengamatan komet sudah dilakukan ratusan tahun lalu. Seiring perkembangan teknologi pengamatan, penemuan komet semakin banyak. Sudah ada ribuan komet yang ditemukan sekarang ini. Sering komet diberi nama sesuai dengan nama penemunya, baik seorang, dua atau lebih, bila ditemukan secara serentak. Contohnya Komet Shoemaker-Levy 9 yang sebagian materinya menabrak Yupiter pada tahun 1994. Komet itu ditemukan oleh pasangan Eugene dan Carolyn Shoemaker serta David H Levy pada 23 Maret 1993.

Tata cara penamaan lainnya adalah menurut tahun ditemukan dan diikuti huruf kecil pada tahun ditemukannya. Misalnya, komet ketujuh yang ditemukan pada tahun 2004 adalah 2004g.

Misi penelitian

Kandungan materi dalam komet menarik perhatian kalangan ilmuwan. Ada pendapat bahwa sumber air dan materi organik di planet-planet berasal dari komet. Dalam perjalanan melanglang ruang, komet mengumpulkan mikroorganisme beku. Kemudian selama menuju Matahari, sebagian materi itu dilepaskan lalu masuk ke Bumi dan berkembang di planet ini. Teori ini disebut Panspermia.

Tidak seperti planet, asteroid, atau obyek di Kuiper Belt, keberadaan komet seperti menyimpan banyak misteri. Hal itu dikarenakan jauh dan luas tempatnya serta jumlahnya yang amat banyak. Selain itu, juga karena tidak adanya jalur khusus orbit komet. Hal lain, materi komet semakin berkurang, setiap melewati Matahari, lalu akan mati. Karena itu, upaya penelitiannya menjadi begitu menantang. Sebagai contoh kedatangan Komet Halley pada 1986 mengundang komunitas internasional untuk melakukan penelitian seperti Uni Soviet dengan pesawat antariksa Vega 1 dan 2, Badan Penerbangan Antariksa Eropa dengan Giotto, Jepang dengan Sakigake, serta Suisei dan NASA dengan International Cometary Explorer (ICE).

Yang teranyar adalah wahana antariksa Rosetta (diluncurkan 2 Maret 2004) untuk menyelidiki Komet 67P/Churyumov-Gerasimenko selama dua tahun. Rosetta akan mendaratkan instrumen ilmiah ke komet, yang saat ini sedang mendekati Matahari, di tahun 2014.

Wahana lainnya adalah Stardust (diluncurkan 7 Februari 1999) yang menyelidiki Komet Wild 2 dan akan membawa pulang ke Bumi contoh materi koma dari komet ini pada 15 Januari 2006. Diduga, materi yang ada dalam komet merupakan materi yang terbentuk di awal kelahiran Tata Surya 4, 6 miliar tahun lampau.

Diharapkan dengan beragam misi itu akan membuka rahasia Tata Surya miliaran tahun lampau. Dengan begitu, akan lebih baik kita menikmati pemandangan komet dengan semangat ilmiah.

Sumber : Kompas (7 Mei 2004)

 

Tabrakan Kosmik: Lahirnya Galaksi

Posted in astronomi dengan kaitan (tags) on Agustus 14, 2008 by firdaussains

Gumpalan awan raksasa yang mengandung gas
hidrogen dalam volume sangat besar tengah melesat mendekati piringan Galaksi
Bima Sakti, tempat tata surya kita berada. Tabrakan dahsyat yang diperkirakan
terjadi antara 20-40 juta tahun lagi akan menghasilkan kembang api spektakuler
di langit. Objek tersebut diberi nama Awan Smith, diambil dari nama Gail Smith,
seorang astronom AS yang mendeteksinya pertama kali pada tahun 1963 saat
meneliti di Universitas Leiden, Belanda.
Sejak ditemukan, para astronom masih berdebat apakah awan tersebut benar-benar
mendekati galaksi Bimasakti atau menjauhinya. Rekaman data yang ada selama ini
masih terbatas dan tidak jelas apakah objek tersebut bagian dari kabut
Bimasakti atau masih bergerak ke arahnya. Sejauh ini, para peneliti hanya
mendeteksi gas dan tidak ada satupun bintang di dalamnya. Satu-satunya cara
melihtanya adlah dengan teleskop radio karena gas dingin tidak memancarkan
cahaya, tetapi memantulkan gelombang radio.

Jika dilihat dari Bumi, lebar gumpalan awan
tersebut sebanding dengan 30 kali lebar Bulan. Dari kepala ke ujung ekornya
cukup untuk menyelimuti rasi bintang Orion. Hasil pengamatan baru menggunakan
teleskop radio terkendali paling besar di dunia, Teleskop Green Bank (GBT) di
Virginia Barat, AS,
menunjukkan bahwa objek tersebut bergerak ke arah galaksi Bimasakti. Bahkan,
seperti dilaporkan gabungan tim astronom dari Observatorium Astronomi Radio
Nasional AS (NRAO) dan Universitas Winconsin Whitewater dalam pertemuan
Masyarakat Astronomi Amerika ke-211 di Austin, Texas
baru-baru ini, gaya dorongnya telah
menyentuh kabut Bimasakti. “Jika tabrakan terjadi, hal tersebut akan
memicu lahirnya formasi bintang-bintang baru. Akan banyak bintang raksasa yang
terbentuk, berumur pendek, dan meledak sebagai supernova yang memancarkan
cahaya menyilaukan,” ujar Ketua tim peneliti, DR. Felix Lockman, dari
NRAO. Sebab, Awan Smith membawa energi sangat besar berupa gas hidrogen yang
cukup untuk membentuk jutaan bintang seukuran Matahari. Awan Smith merupakan
gumpalan gas yang berukuran panjang mencapai 11.000 tahun cahaya dan lebar
2.500 tahun cahaya. Objek tersebut saat ini berada 40.000 tahun cahaya dari
Bumi dan 8.000 tahun cahaya dari piringan Bimasakti.

Objek yang pantas disebut kabut monster di ruang
kosmos ini bergerak dengan kecepatan 240 kilometer perdetik dan diperkirakan
menabrak piringan galaksi Bimasakti dengan kemiringan 45 derajat. Tabrakan akan
terjadi di pinggir piringan Bimasakti yang jarak ke pusatnya hampir sama dengan
jarak tata surya kita ke pusat galaksi. Namun, posisinya jauh dari tata surya
kita, diperkirakan berjarak 90 derajat terhadap pusat piringan. “Kami
tidak tahu dari mana asalnya, apalagi orbitnya membingungkan, namun kami
katakan bahwa ia mulai berinteraksi dengan bagian terluar Bimasakti,”
tandas Lockman.

Tabrakan Kosmik: Lahirnya Galaksi

Posted in astronomi dengan kaitan (tags) on Agustus 14, 2008 by firdaussains


Agung Waluyo (George Washington University)

 

Jika kita bisa menciptakan mesin pemercepat waktu sehingga bisa melihat masa depan, kita semua akan menyaksikan perhelatan kolosal yang terjadi di depan mata kita. Galaksi Milky Way, tempat matahari dan planet bumi kita berada, akan bertabrakan dengan galaksi Andromeda, galaksi tetangga terdekat Milky Way.

Andromeda melayang mendekati Milky Way dengan kecepatan 300.000 mil per jam, 100 kali lebih cepat daripada peluru yang melesat dengan kecepatan tinggi. Ketika bertabrakan, Andromeda akan mengubah galaksi Milky Way kita selamanya.

Jutaan bintang akan terlempar dari orbitnya. Awan debu dan gas angkasa akan bertabrakan di antaranya. Lantaran sedemikian kerasnya tabrakan tersebut, lahir jutaan bintang baru. Proses yang terjadi selama ratusan juta tahun itu akan merobek struktur dua galaksi raksasa tersebut.

Hal itu disimpulkan oleh para ahli astronomi di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat, NASA, setelah mengamati bertahun-tahun objek angkasa yang membawa mereka kepada teori lahir dan matinya sebuah galaksi.

Milky Way dan Andromeda

Milky Way adalah galaksi yang merupakan rumah bagi matahari kita dan planet-planetnya atau yang sering disebut solar system. Galaksi memiliki diameter 100 ribu tahun cahaya. Satu tahun cahaya adalah ukuran jarak yang sama dengan jarak yang ditempuh oleh sinar yang bergerak dengan kecepatan 300 ribu km per jam dalam waktu satu tahun. Jika seluruh massa bintang yang ada di Milky Way dijumlahkan, massa Milky Way sendiri akan sama dengan 750 biliun, satu triliun kali massa matahari.

Dengan menggunakan gelombang radio, penyelidikan astronomi terhadap distribusi awan hidrogen di luar angkasa menguakkan informasi bahwa galaksi Milky Way ini berbentuk spiral. Karena itu, massanya sebagian besar berada di pusaran galaksi itu sendiri. Untuk mudahnya, bentuk galaksi ini bisa dibayangkan seperti kue cucur yang dijual di pasar tradisional di Indonesia.

Sementara itu, galaksi Andromeda adalah galaksi terbesar yang paling dekat dengan galaksi Milky Way. Andromeda pertama tercatat sebagai “awan kecil” oleh ahli astronomi Persia yang bernama Abd-al-Rahman Al-Sufi di sekitar tahun 905. Kemudian, ahli astronomi berkebangsaan Bavaria, yaitu Simon Marius, menemukan galaksi ini dan mencatat penemuannya pada 1612. Tanpa mengetahui penemuan Al-Sufi dan Marius, keberadaan Andromeda kemudian dikonfirmasikan oleh bebepapa ahli astronomi dunia pada tahun-tahun berikutnya.

Galaksi Andromeda dikategorikan sebagai galaksi raksasa karena memiliki diameter sekitar 200 ribu tahun cahaya atau dua kali lebih besar daripada galaksi Milky Way. Andromeda memiliki massa 300 sampai 400 biliun kali massa matahari. Bentuknya yang bulat khas dan ukurannya yang besar membuat galaksi ini mudah teramati walaupun dalam kondisi langit yang cukup moderat dan dengan menggunakan teleskop sederhana.

Evolusi Galaksi

Dengan menggunakan teleskop Hubble yang berada pada ketinggian 612 km dari permukaan bumi dan berkecepatan 28.000 km per jam mengelilingi bumi, ahli astronomi NASA mengamati gugusan bintang berdasar kapan gugusan bintang itu terbentuk.

Karena cahaya memerlukan waktu dari sumber cahaya yang merupakan objek angkasa sampai tiba di cermin teleskop Hubble, maka setiap pemotretan gambar yang dilakukan Hubble sebenarnya merekam kejadian masa lampau, bukan kejadian masa kini.

Di awal terbentuknya alam semesta, galaksi bertabrakan dengan galaksi lain sepuluh kali lebih sering daripada tabrakan galaksi di masa kini. Kesimpulan ini dibuat berdasar observasi astronomi sebagai berikut.

Kumpulan bintang yang terbentuk 12,6 biliun tahun yang lalu menunjukkan bintang-bintang muda yang berkumpul pada lokasi-lokasi tertentu di angkasa. Pengamatan terhadap kumpulan bintang-bintang pada usia alam semesta yang lebih muda, yaitu sekitar 9 biliun tahun yang lalu, menunjukkan galaksi-galaksi yang “gelembung-gelembung” tanpa bentuk regular.

Akhirnya, pengamatan terhadap alam semesta yang relatif lebih tua, atau sekitar 5,3 biliun tahun lalu, menunjukkan kelompok-kelompok bintang dengan bentuk yang jauh lebih jelas seperti piring spiral ketika mereka saling bertumbukan.

Kadang-kadang, galaksi bertabrakan dalam kelompok dua atau tiga galaksi. Kelompok yang bertumbukan ini akan menyatu menjadi satu galaksi yang besar. Penemuan ini kemudian disatukan ke dalam sebuah simulasi yang memberikan kesimpulan yang mengejutkan: galaksi terbentuk melalui proses tumbukan. Proses tumbukan antargalaksi itu berlanjut sampai saat ini.

Dua Galaksi Bertumbukan

Apakah yang menyebkan dua buah galaksi bertumbukan? Jawaban sederhana dari pertanyaan ini gaya gravitasi. Seperti dirumuskan oleh Issac Newton, fisikawan yang lahir pada 4 Januari 1643 di Lincolnshire, London, Inggris, setiap benda angkasa akan mengalami gaya tarik menarik dengan benda angkasa lain.

Hukum ini dikenal sebagai hukum gravitasi Newton. Besarnya gaya gravitasi antara dua benda angkasa akan berbanding lurus dengan kedua massa benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak kedua benda tersebut. Tetapi, jika dibandingkan dengan ketiga gaya alami lain yang dikenal di alam semesta seperti gaya elektromagnetik, gaya nuklir lemah dan kuat, gravitasi adalah gaya terlemah di antara keempat gaya tersebut.

Jika dua galaksi berada cukup dekat antara satu dan lainnya, gaya gravitasi akan menarik keduanya untuk saling mendekat. Seperti galaksi Milky Way dan galaksi Andromeda, gaya gravitasi keduanya akan membawa kedua galaksi ini mendekat.

Ketika bertumbukan, matahari dan sistem solar kita tidak bertumbukan dengan bintang lain, melainkan akan “berlayar” tanpa dipengaruhi oleh situasi sekeliling melewati galaksi yang sedang berubah bentuk.

Jika ukuran matahari sebanding dengan sebuah butir pasir di pantai yang melekat pada telapak kaki kita, kita harus berjalan sekitar 2 mil sebelum menemui butir pasir berikutnya, yaitu bintang Alpha Centauri.

Ketika dua galaksi bertumbukan, bintang-bintang akan berpapasan. Kita bisa bayangkan proses ini dengan kondisi mobil di jalan raya. Jika sebuah mobil bergerak mendekati simpangan, mobil-mobil ini akan berjalan silih berganti tanpa harus bertabrakan dengan mobil yang lain.

Sumber : Jawa Pos (14 April 2004)

Dawn, Perjalanan Menuju Masa Lalu

Posted in astronomi dengan kaitan (tags) on Agustus 3, 2008 by firdaussains
UCLA
Dawn diantara vesta dan Ceres. image credit : UCLA

Tanggal 777, sebuah misi untuk menembus masa lalu rencananya akan diluncurkan. Namun sayangnya tanggal 7 Juli yang seharusnya merupakan titik awal perjalanan Dawn akhirnya harus ditunda. Dalam press release NASA, Dawn dijadwalkan kembali untuk diluncurkan pada bulan September 2007. Misi Dawn akan menjelajah ke masa lebih dari 4,5 miliar tahun yang lalu Masa di saat Tata Surya pertama kali terbentuk. Dalam perjalanan ini Dawn tidak akan kembali ke masa lalu melainkan pergi menjumpai asteroid, obyek yang berada di antara Mars dan Jupiter.Target utama misi Dawn adalah asteroid Vesta dan planet katai Ceres yang menempati Sabuk Asteroid bersama ribuan benda kecil lainnya atau yang kita kenal sebagai asteroid. Di daerah ini akan dijumpai ribuan asteroid yang terjebak diantara peperangan tarik menarik antara Matahari dan Jupiter. Dan di area ini angka tabrakan antar asteroid cukup tinggi. Namun demikian Ceres dan Vesta merupakan dua diantara asteroid yang masih tetap utuh sejak terbentuk sampai saat ini. Tahun 2006, bersama dengan resolusi IAU mengenai definisi planet, Ceres tidak lagi dikategorikan sebagai asteroid, melainkan masuk dalam kelas planet katai bersama Pluto dan Eris.

Mengapa Asteroid Vesta dan Ceres ?
Asteroid terbentuk bersamaan dengan terbentuknya planet batuan seperti Merkurius, Venus, Bumi dan Mars. Namun dalam proses pertumbuhan planet-planet di Tata Surya, ada planet yang tidak sempat bertumbuh karena pengaruh gravitasi Jupiter. Cikal bakal planet inilah yang kemudian kita kenal sebagai asteroid. Karena itu, diperkirakan sampai saat ini asteroid masih menyimpan materi-materi disaat awal pembentukannya. Hal inilah yang akan diungkap Dawn agar kita bisa mengetahui bagaimana kondisi awal Tata Surya beserta proses awal pembentukannya.

Di dalam proses pembentukan Tata Surya, semakin jauh dari Matahari maka obyek yang terbentuk akan semakin dingin. Hal inilah yang menyebabkan planet terrestrial terbentuk di dekat Matahari dan obyek es terbentuk di daerah yang jauh atau daerah luar Tata Surya. Lebih jauh lagi, bukti-bukti menunjukan, setiap obyek memiliki karakteristik yang berbeda seharusnya memiliki jalur evolusi yang berbeda. Karena itu diharapkan dengan meneliti dua obyek yang sangat berbeda karakteristiknya, dapat mengungkap sebagian misteri pembentukan planet, termasuk proses yang mendominasinya.

Dawn, dalam misinya yang hampir satu windu ini akan menyelidiki Vesta dan Ceres dua asteroid yang sangat berbeda karakternya dan diyakini terbentuk lewat proses akresi di awal sejarah pembentukan Tata Surya. Diperkirakan proses hidrologi di Ceres masih aktif, dan memicu terjadinya musim dingin yang menutupi daerah kutub Ceres dengan es. Ceres juga diduga memiliki atmosfer tipis, yang membedakannya dari asteroid lainnya. Lain Ceres, lain pula Vesta. Vesta diduga memiliki batuan yang magnetnya lebih kuat dibanding di Mars. Hal ini memicu keingintahuan bagaimana dan kapan kondisi dinamik tersebut muncul. Permukaan Vesta lebih kering ditandai oleh pola permukannya yang beragam dari aliran lava padat sampai dengan kawah yang dalam dekat kutub selatannya.

Dari karakteristik keduanya, Vesta menunjukkan karakterstik yang mirip dengan planet dalam (inner planet), sementara Ceres menunjukkan kemiripannya dengan satelit es dari planet-planet luar (outer planet). Mempelajari kedua obyek ini diharapkan bisa memberi pengetahuan mengenai transisi planet batuan ke area luar Tata Surya yang dingin.

Secara umum, ada tiga hal yang menjadi tujuan Dawn yakni pertama, menangkap momen awal asal usul Tata Surya sehingga kita bisa memahami kondisi pembentukannya. Yang kedua, Dawn akan membantu menentukan cirri-ciri batuan yang membentuk planet terrestrial untuk membantu kita memahami pembentukan planet-planet batuan, Dan yang terakhir adalah mempelajari pembentukan dan evolusi dua obyek yang memiliki jejak evolusi berbeda, sehingga bisa dipahami apa yang mengontrol terjadinya evolusi. Dawn akan menyelesaikan misinya dalam jangka waktu 8 tahun, dimulai dari peluncurannya hari ini pada tangal 7 Juli 2007 sampai dengan Juli 2015. Dawn akan tiba di Vesta bulan Oktober 2011, dan tiba di Ceres bulan Februari 2015.
Sama seperti misi lainnya, Dawn merupakan penjejak sebelum melangkah lebih jauh lagi dalam menyingkap setiap misteri dalam alam semesta.

Ketika Es Antartika Terancam Oleh Pulihnya Lubang Ozon

Posted in astronomi dengan kaitan (tags) on Agustus 3, 2008 by firdaussains
NASA
Tren temperatur di antartika. Sumber : NASA

Kalau lubang ozon sudah terpulihkan, apakah kemudian pemanasan global bisa teratasi? Ternyata studi terkini menunjukkan pulihnya lubang ozon di atas Antartika malah menyebabkan lebih banyak es mencair pada dekade mendatang. Ketika lubang ozon pulih, pola angin yang melindungi interior wilayah kutub dari udara yang hangat menjadi terbuka, mengakibatkan Antartika menghangat, demikian juga kondisi yang lebih hangat dan kering di Australia.Kendati suhu global meningkat, interior Antartika mempunyai situasi yang unik karena cenderung mendingin pada musim panas dan gugur selama beberapa dasawarasa belakangan. Ilmuwan mengaitkan pendinginan tersebut dengan adanya lubang pada lapisan ozon yang mempengaruhi pola sirkulasi atmsofer dan memperkuat angin yang mengarah ke barat dan berputar-putar di dalam benua Antartika. Angin tersebut mengisolasi interior Antartika dari pola pemanasan, sebagaimana yang teramati pada semenanjuang Antartika serta bagian lain dunia (Gb.1).

Upaya untuk mencegah terjadinya lubang pada ozon telah dilakukan semenjak lama. Protokol Montreal tahun 1987 telah berhasil mengupayakan pelarangan bahan-bahan perusak ozon, sehingga kerusakan yang lebih parah bisa terhindarkan. Tetapi permasalahan tidak sesederhana itu. Studi telah dilakukan pada dinamika antara ozon strastosfer dan kondisi atmosfer dari tahun 1950 sampai akhir abad ke dua puluh; hasilnya menunjukkan bahwa ketika tingkat ozon terpulihkan, lapisan bawah stratosfer di atas Antartika – 10-20 km di atas permukaan BUmi – akan menyerap radiasi ungu-ultra, dan menaikkan temperatur sampai 9 derajat C, mengurangi gradien temperatur utara-selatan yang kuat. Kalau sudah begitu, temperatur menjadi lebih ’suam-suam kuku’ di Antartika, bersamaan dengan itu, angin yang mengarah ke barat menjadi lebih lemah dan menghasilkan temperatur yang lebih hangat dan kering di Australia dan meningkatnya presipitasi di Amerika Selatan.

Model iklim, sebagaimana yang dipergunakan oleh IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change’s) tidak memperhitungkan detil mengenai kimiawi ozon. Banyak model tidak menyertakan situasi pada 30 km di atas permukaan Bumi, sementara untuk menjelaskan stratosfer itu paling tidak membutuhkan ketinggian sampai 60 km. Tentu saja ini menjadi tantangan bagi ilmuwan yang bekerja pada analisis iklim untuk memperhitungkan perubahan ozon dari pengurangan sampai penyembuhannya selama abad dua puluh dan dua puluh satu.

Jika didapatkan umpan-balik bahwa ternyata pencairan es berdasarkan model yang ada masih kurang tepat, maka tingkat aman karbon-dioksida yang ditetapkan selama ini juga salah. Produktivitas biologi di lautan ditentukan oleh pola sirkulasi lautan dan atmosfer, sehingga studi mendatang harus bisa menggandeng sekaligus dinamika lautan pada kimiawi ozon dan iklim.

Sumber : Disadur dari Berita Majalah Nature, 29 April 2008.

Ledakan Bintang Akan Mengarah ke Bumi

Posted in astronomi dengan kaitan (tags) on Agustus 3, 2008 by firdaussains
Peneliti WR 104
Debu spiral bintang ini menunjukan arahnya menuju Bumi. Kredit Gambar : Peneliti WR 104

Bintang yang mati bisa mempengaruhi kehidupan Bumi. Tak percaya? Sebuah sistem bintang ganda akan mengalami keruntuhan dan menimbulkan ledakan sinar gamma masif dalam rentang beberapa ratus ribu tahun ke depan. Nah. ternyata ledakan tersebut akan mengarah ke Bumi.Sistem bintang ganda WR 104 yang berada di rasi Sagitarius pada jarak 8000 tahun cahaya dari Bumi terdiri dari 2 bintang yang saling mengorbit setiap 8 bulan. Kedua bintang ini merupakan bintang masif dan memiliki angin bintang yang sangat kuat yang dapat memuntahkan semua materi keluar. Akibatnya terdapat jejak spiral dari gas dan debu yang panas.

Pengamatan terhadap WR 104 selama 6 tahun dilakukan oleh Peter Tuthill di Universitas Sydney, Australia. Sepanjang 6 tahun pengamatan, mereka berhasil melihat 10 kali orbit bintang ganda tersebut dan berhasil menangkapnya dengan kamera di teleskop Keck di Mauna Kea, Hawaii. Gambar yang dihasilkan menunjukan adanya debu yang berbentuk spiral dalam keindahannya dan mengungkap fakta adanya potensi penghancuran. Bumi sendiri berada di bagian bawah poros sistem pada arah sekitar 0 – 16º.

Bintang masif memang akan mengakhiri masa hidupnya dengan meledak. Pertanyaannya apakah ledakan ini akan terjadi sebagai supernova yang meledak ke segala arah, menyebarkan kerusakan kemana-mana ataukah bintang akan berputar dengan cepat sampai meledak dalam ledakan sinar gamma. Jika demikian, melihat sudut yang terbentuk antara Bumi dengan sistem ini, maka kita berada dalam garis kehancuran dari setengah semburan ledakan tersebut. Memang masih belum jelas seperti apa efek dari ledakan tersebut, tapi berbagai kemungkinan telah dipostulatkan untuk ledakan tersebut. Jika ledakan tersebut memiliki sudut 2 – 20º, maka Bumi bisa saja berada di luar zona bahaya. Namun jika terjadi perbedaan 12º maka kehidupan di Bumi akan terancam.

Terperangkap dalam cahaya
Pemusnahan masal di Bumi 450 juta tahun lalu mungkin saja dipicu oleh ledakan sinar gamma. Menurut Adrian Mellot dari Uiversitas Kansas, Lawrence, yang mengemukakan kemungkinan tersebut pada tahun 2003, observasi pada WR 104 merupakan berita besar karena ini merupakan kandidat pertama yang akan menjadi ledakan sinar gamma yang mendera Bumi di masa depan. Jika ledakan tersebut sepenuhnya merupakan ledakan sinar gamma, dan kita terperangkap dalam cahayanya, maka efek yang dihasilkan akan sangat hebat. Bisa jadi akan ada lebih banyak kematian yang terjadi. Bisa dikatakan kejadian tersebut akan seperti perang nuklir dalam skala kecil yang sedang terjadi.

Cahaya sinar gamma mungkin tidak akan langsung membunuh kita. Pertama-tama yang muncul adalah kilatan cahaya terang yang mungkin bisa membutakan manusia dan setelah beberapa jam efeknya akan semakin menigkat dan tidak main-main.

Sinar gamma akan memecah molekul di atmosfer dan menghasilkan nitrogen oksida yang akan memakan lapisan ozon setelah beberapa jam. Dan dalam beberapa hari berikutnya 1/4 lapisan ozon akan hancur. Kerusakan ozon akan memberi peluang pada sinar ultraviolet untuk menyebabkan kerusakan hebat akibat radiasi pada manusia dan tumbuhan. Tidak hanya itu, oksida nitrogen akan menyebabkan hujan asam yang bisa membunuh tumbuhan dan alga.

Kapankah terjadi?

Peneliti WR 104
Apakah WR 104 akan menjadi bintang mati? Kredit Gambar : Peneliti WR 104

Memang masih merupakan hal yang mustahil untuk memprediksikan apakah WR 104 akan menimbulkan ledakan sinar gamma atau kapan ia akan mengalaminya. Karena untuk sampai pada ledakan tersebut, bintang harus berputar cukup cepat sehingga menimbulkan cahaya sinar gamma di poros. Di sinilah letak kesulitan dan misteri yang dihadapi, karena Tuthill sendiri masih belum mengetahui kapan WR 104 akan berputar cukup cepat.Menurut Tuthill, WR 104 saat ini sedang berada pada fasa stabilnya yang terakhir sebagai bintang masif. Ia memang akan meledak sebagai supernova dalam beberapa ratus ribu tahun ke depan. Tapi bisa saja itu terjadi besok, tak ada yang bisa mengetahuinya.

Sumber : Nature

Alam Semesta Itu Seperti Donat

Posted in astronomi dengan kaitan (tags) on Agustus 3, 2008 by firdaussains
Nature
Kalkulasi menunjukan alam semesta bisa jadi berbentuk donat dan terbatas. Kredit Gambar : Nature

Bagaimana bentuk alam semesta? Apakah tak terbatas? ataukah terbatas? Semenjak tahun 2003 ada paham yang menyatakan alam semesta itu berbentuk donat, terbatas dan relatif lebih kecil. Ide ini jadi populer saat komolog menemukan pola tak terduga dalam cosmic microwave background (CMB), radiasi peninggalan dentuman besar.CMB terdiri dari noda atau titik dingin dan panas yang merepresentasikan riak dalam kerapatan bayi alam semesta, seperti gelombang di lautan. Noda-noda tersebut akan terlihat dalam distribusi CMB yang mengindikasikan adanya perbedaan temperatur. Dalam alam semesta yang tak terbatas, harusnya terdapat berbagai ukuran gelombang namun para kosmolog dibuat terkejut saat ditemukan panjang gelombang yang lebih panjang hilang dari pengukuran CMB yang dilakukan oleh Wilkinson Microwave Anisotropy Probe milik NASA. Salah satu alasan mengapa ada gelombang yang hilang adalah karena alam semesta itu terbatas.

Bola kaca
Menurut Frank Steiner, fisikawan dari Ulm University di Jerman, “kamu bisa berpikir kalau alam semesta itu seperi sebuah instrumen musik, ia tidak dapat menahan getaran yang memiliki panjang gelombang lebih besar dari panjang instrumen itu sendiri.”

Para kosmolog mengajukan ide mengenai bentuk alam semesta yang dibungkus disekelilingnya, seperti bentuk bola kaki atau bahkan seperti bentuk sebuah donat. Dalam tiap kasus, alam semesta akan tampak tidak terbatas, karena kita tidak akan pernah bisa menjumpai tepiannya. Jadi jika kita bisa melakukan perjalanan dalam alam semesta ke arah manapun, maka kita akan kembali lagi ke titik dimana kita memulainya. Sama seperti saat mengelilingi bola bumi.

Namun paham ini kemudian mengalami kemunduran. Kosmolog memprediksikan alam semesta yang terbungkus akan berperilaku seperti sebuah pelataran kaca, dengan gambar objek-objek jauh yang diulang-ulang beberapa kali di angkasa. Pencarian pola yang dilakukan oleh Glen Starkman dari Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio, tidak memberi hasil apapun.

Wolfram Mathworld
Bentuk 3-torus, perluasan dari bentuk donat. Geometri yang menjelaskan bentuk alam semesta. Kredit Gambar: Wolfram Mathworld

Analisis ulang data tahun 2003 yang dilakukan oleh Steiner dan koleganya untuk mencari bentuk lain termasuk bentuk 3-torus (lihat gambar), dan bentuk donat. Meskipun namanya terdengar indah, bentuk ini sangat sulit divisualisasikan. Bentuk 3-torus merupakan perluasan dari bentuk donat yang bisa dibentuk dari selembar kertas persegi empat.

Gulung dua sudut berlawanan untuk membentul silinder dan langkah kedua, bentuk dua sudut lainnya yang bertentangan untuk membentuk donat. Bentuk 3-torus dibentuk dengan cara yang hampir mirip, namun harus dimulai sebuah kubus dan kemduian tempelkan setiap sudut yang berlawanan. Ini dilakukan supaya saat ingin keluar dari salah satu permukaan kubus, maka akan terlihat kita akan masuk lagi melalui arah berlawanan.

Bentuk Lain Yang Memungkinkan
Tim Steiner dalam melakukan analisa menggunakan 3 teknik yang berbeda untuk membandingkan prediksi terhadap fluktuasi temperatur di berbagai area. Perbandingan fluktuasi temperatur dilakukan untuk dicocokan pada model alam semesta yang tak terbatas maupun bentuk alam semesta donat. Dalam tiap kasus, bentuk donatlah yang memperlihatkan kecocokan dengan data dari Wilkinson Microwave Anisotropy Probe. Tim ini bahkan bisa menerka ukuran alam semesta, yang diperkirakan akan memakan waktu 56 milyar tahun cahaya untuk dikelilingi.

Jean-Pierre Luminet dari Paris Observatory di Perancis, yang mengajukan paham alam semesta berbentuk sepak bola juga setuju dengan analisa Steiner kalau bentuk donat masih jadi kandidat yang paling digemari. Namun ia menambahkan kalau kemungkinan alam semesta berbentuk sepak bola masih ada dan tetap hidup.

Namun Starkman justru tidak bisa diyakinkan dengan penemuan tim Steiner. Baginya penemuan itu belum memberi keyakinan apapun, dan bagi dia bisa jadi alam semesta memang kecil namun itu tidak menjadi jawaban apapun.

Di sisi lain, Steiner berkeyakinan data yang akan didapat oleh satelit Planck milik Eropa yang akan diluncurkan tahun ini akan dapat memberi jawaban atas berbagai pertanyaan yang ada saat ini.

Secara filosofi bagi Starkman, ide alam semesta terbatas yang pada suatu hari kelak bisa dieksplorasi seluruhnya memang merupakan hal yang sangat menarik. Namun sayang sekali lagi Starkman menambahkan, “karena fisika tak bisa ditentukan oleh filosofi, maka saya harap jawaban akan diberikan oleh Planck.”

Sumber : Nature

Stabilkah Tata Surya?

Posted in astronomi dengan kaitan (tags) on Agustus 3, 2008 by firdaussains
NASA/JPL-Caltech/T. Pyle (SSC/Caltech)
Ilustrasi tabrakan dua benda masif. Kredit Gambar : : NASA/JPL-Caltech/T. Pyle (SSC/Caltech)

Stabilkah Tata Surya? Dalam perhitungan-perhitungan yang sudah dilakukan oleh para astronom, terlihat kalau Tata Surya merupakan sistem yang stabil. Delapan planet disertai asteroid, planet katai dan objek lainnya di Tata Surya mengelilingi Matahari memang tampak memiliki kestabilan yang luar biasa dalam jangka waktu panjang. Dalam berbagai teori, Tata Surya bahkan lebih stabil dibandingkan sistem extrasolar planet. Tapi ternyata di antara kumpulan planet ini, ada kemungkinan terjadinya tabrakan bukan hanya oleh meteor, atau kemungkinan diakhirinya hidup Bumi saat Matahari tua nanti dan menjadi raksasa merah. Ternyata planet Jupiter, si planet gas raksasa di Tata Surya ini menyimpan kemungkinan yang mengerikan. Apa itu?Jupiter ternyata memiliki pengaruh gravitasi yang sangat kuat terhadap planet lainnya, terutama planet yang jauh lebih kecil. AKibatnya, mas depan planet-planet kecil di Tata Surya akan jadi suram jauh sebelum Matahari berubah jadi raksasa merah. Dan planet kecil itu tentunya termasuk Bumi. Dalam perjalanannya, gaya gravitasi Jupiter kelak akan menggangu Merkurius dan menyebabkan planet terdekat Matahari ini mengalami peningkatan eksentrisitas orbit yang besar. Bahkan Merkurius diperkirakan akan masuk dalam jalur Venus. Dan Bumi pun akan merasakan akibatnya.

Jupiter, planet kelima yang mengorbit Tata Surya pada jarak 5 SA atau 5 kali jarak Bumi ternyata walau dengan jarak yang sangat jauh pun menjadi masalah bagi planet lainnya. Gaya gravitasi Jupiter memang sangat besar, yakni 318 kali gravitasi di Bumi. Dan ini memang menjadi masalah bagi planet dalam di Tata Surya termasuk Merkurius. Merkurius sendiri dalam Tata Surya merupakan planet terdekat dengan jarak 0,47 SA (saat berada di titik terjauh dari Matahari) dan 0,31 SA (saat berada pada jarak terdekat dnegan Matahari). Massa Merkurius juga sangat kecil, hanya 0,055 kali Massa Bumi.

Simulasi yang dilakukan oleh Jacques Laskar dari Paris Observatory, juga Konstantin Batygin dan Gregory Laughlin dari University of California, Santa Cruz, menunjukan gravitasi Jupiter akan mengganggu orbit Merkurius, dan menyebabkan si planet kecil ini memperluas orbitnya sampai memasuki orbit Venus, atau bahkan Merkurius akan menabrak Matahari. Ada 4 kemungkinan jika Merkurius mengalami gangguan oleh jupiter yakni :

  1. Merkurius akan menabrak Matahari
  2. Merkurius akan terlontar keluar dari Tata Surya
  3. Merkurius akan menabrak Venus
  4. Merkurius akan menabrak Bumi

Ke-4 skenario kemungkinan itu sama sekali tidak menyenangkan bagi Merkurius yang harus mengakhiri hidupnya di Tata Surya lebih dahulu dibanding lainnya. Tapi kemungkinan Merkurius menabrak Bumi tentu sesuatu yang sangat menakutkan bagi kita. Bagaimana dengan kehidupan di Bumi? Kalau tabrakan besar asteroid dan komet bisa memusnahkan sleuruh dinosaurus, maka tak pelak kehidupan di Bumi bahkan Bumi sendiri akan hancur jika ditabrak Merkurius yang berdiameter 4880 km. Mungkin Bumi hanya menyisakan serpihan kecil jika tabrakan itu benar terjadi.

Nah itu tadi berita buruknya. Berita baiknya adalah, kemungkinan terjadinya ketidakstabilan di Tata Suryai itu hanyalah 1% sebelum Matahari berubah menjadi raksasa merah dan menelan Merkurius, Venus, Bumi dan Mars dalam 7 milyar tahun ke depan.

Sumber : UniverseToday, Daily Galaxy, Chaotic diffusion in the Solar System (J. Laskar), dan On the dynamical stability of Solar System (Batygin & Laughlin)