Arsip untuk Juli, 2008

Dinosaurus Mana yang Mungkin Dapat Dijuluki Si Keras Kepala dan Mengapa Pterosaurus Dapat Terbang ?

Posted in arkeolog dengan kaitan (tags) on Juli 31, 2008 by firdaussains

Gelar juara ketebalan tengkorak direbut oleh Pacisefalosaurus, atau si kepala kubah. Tulang ubun-ubunnya setebal 25 cm. Si kepala kubah barangkali bertarung dengan adu kepala. Kubah ini melindungi otaknya yan kecil.

Pemenang adu kepala mungkin menjadi pemimpin kawanan

Pterosaurus adalah reptilia peterbang. Sayapnya tidak dari bulu melainkan dari selaput kaku yang berserat. Terbangnya dengan mengepakkan sayap atau melayang pada arus angin. Yang terkenal adalah Pterodaktil, dan Pteranodon adalah yang memiliki jengger menakjubkan.

Cara Pteranodon Mengudara

Untuk tinggal landas, pteranodon

menghadap angin dan siap meluncur

pada arus angin yang naik.

Kalau terkena arus naik yang cocok

pteranodon membentangkan sayap

untuk menadah udara, dan tinggal

landas dengan terbang layang.

Setelah mengudara, pteranodon

terbang dengan mengepakkan sayap.

Semakin kuat kepakannya, semakin

tinggi terbangnya.

China Keluarkan Aturan Pengembangan Mobil Energi Baru

Posted in sains dengan kaitan (tags) on Juli 31, 2008 by firdaussains

Media Indonesia Online (Media Indonesia Online)

BEIJING–MEDIA: Pemerintah China membuat suatu ketentuan yang substansial ke depan dalam mengembangkan industri mobil dengan energi baru sebagai bentuk kepedulian terhadap konservasi energi dan perlindungan lingkungan.

“Sebuah peraturan baru mengenai sejumlah kualifikasi manufaktur untuk industri mobil dengan energi baru telah disampaikan oleh para perencana ekonomi tertinggi, yakni Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) setelah selama tujuh bulan melakukan diskusi publik,” demikian seperti dikutip Xinhua, di Beijing, Sabtu.

Mobil energi baru yang masuk dalam definisi adalah mobil hibrida, kendaraan listrik baterai (BEV), kendaraan listrik menggunakan sel (FCEV), kendaraan berbahan bakar hidrogen, serta kendaraan dengan tenaga tipe bahan bakar lain.

Profesor Zha Daojiong, direktur Pusat Keamanan Energi Internasional Tiongkok, Universitas Renmin, Beijing, mengatakan latar belakang keluarnya ketentuan itu dalam upaya untuk menjawab meningkatnya mobil di pasar domestik serta memenuhi permintaan energi internasional.

Ketentuan itu dikeluarkan menyusul adanya pengumuman mengenai melonjaknya harga bahan bakar secara tajam oleh NDRC.

Harga bensin, minyak disel dan bahan bakar untuk pesawat terbang naik 500 yuan per ton, suatu kenaikan hampir 10 persen, yang sebagai upaya pemerintah mengurangi perbedaan harga bahan bakar di pasar internasional dengan dalam negeri.

Dokumen itu menyebutkan bahwa Pemerintah Tiongkok akan mempercepat penelitian, pengembangan serta produksi mobil energi baru langkah demi langkah.

Sejumlah perusahaan mobil telah mengajukan permintaan kepada para produsen mobil dengan ketentuan itu serta akan melakukan penelitian yang memadai, produksi, serta kapasitas layanan purna jual serta mengharapkan adanya kepastian kepercayaan mengenai nasib mobil generasi baru itu.

“Sejumlah perusahaan mengharapkan produsen mobil energi baru sebaiknya memberikan perhatian pada pengembangannya untuk kendaraan tipe baru itu dengan sungguh-sungguh menerapkan efisiensi energi, bukan hanya sekadar namanya saja,” kata Zhang.

Akan ada sejumlah institusi pengujian khusus untuk mengawasi kualitas kendaraan tipe baru itu. (Ant/OL-1)

Sumber : China Keluarkan Aturan Pengembangan Mobil Energi Baru

Bagaimana Cara Dinosaurus Bertarung ?

Posted in arkeolog dengan kaitan (tags) on Juli 31, 2008 by firdaussains

Karnivoranya, atau pemakan daging, mempunyai gigi dan cakar tajam untuk menyerang dan membunuh mangsa. Herbivora biasanya memiliki semacam sirip atau duri-duri ekor untuk melindungi diri jika diserang.

Bagaimana cara dinosaurus berburu ?

Alosaurus memiliki gigi tajam

untuk mengoyak-ngoyak binatang.

Deinonikhus punya cakar yang

menanga kalau menyerang mangsa.

Barioniks punya cakar pada

kaki depan.

Pertahanan pemakan tumbuhan ?

Triseratops punya tiga tanduk

untuk bertarung.

Stegosaurus mempertahankan diri dengan

duri tajam yang panjang pada ujung ekor.

Ankilosaurus punya benjolan tulang

besar pada ujung ekor.

Pacisefalosaurus

menyerudukkan kepalanya.

Dinosaurus Manakah yang Paling Kuat dan Dinosaurus Mana yang Tercepat Larinya ?

Posted in arkeolog dengan kaitan (tags) on Juli 31, 2008 by firdaussains

Tiranosaurus reks dikenal sebagai raja kadal lalim dan dinosaurus yang paling kuat. Dari hidung samapi ekor panjangnya 14 meter; maka inilah karnivora paling besar yang pernah hidup di bumi. Lingkar tengkoraknya 1,2 meter. Rahangnya sangat besar dengan deretan gigi sangat tajam. Tingkah lakunya sangat buas dalam berburu dan memakan bintang lain. Menurut ilmuan, Tiranosaurus reks juga pemakan bangkai dan makan daging sesamanya yang sudah mati.

Tiranosaurus sedang menyerang Koritosaurus

Ornitomimuslah yang agaknya paling cepat. Wujudnya mirip burung unta yang tak berbulu karena kaki belakangnya panjang lagi kuat, lehernya panjang dan kepalanya mirip kepala burung. Larinya mungkin juga seperti burung unta dan berkat kakinya barangkali dinosaurus si burung unta menjadi juara lali di antara dinosaurus.

Ornitomimuslah dan burung unta

Bagaimana asal-usul nama Dinosaurus ?

Posted in arkeolog dengan kaitan (tags) on Juli 31, 2008 by firdaussains

Kebanyakan dinosaurus diberi nama menurut ciri fisik khasnya. Yang lain diberi nama berdasarkan kebiasaan aneh yang diperkirakan terhadap pada jenis itu. Lainnya lagi berdasarkan nama daerah tempat ditemukan fosil kerangkanya untuk pertama kali.

Iguanodon

Inilah dinosaurus pertama yang dikenal

oleh ilmu pengetahuan. Namanya

demikian karena giginya mirip iguana

masa kini.

Triseratops

Namanya berarti

muka bertantuk tiga.

Pteranodon

Namanya aneh : bersayap tak bergigi.

Para ilmuwan pun masih mempersoalkan

kegunaan jenggernya yang besar.

Sordes pilosus

Reptilia peterbang ini hidup pada Zaman

Jura. Tubuhnya berambut kasar,

tampangnya begitu buruk dan mengancam

sehingga diberi nama setan berambut.

Albertosaurus

Dinosaurus ini adalah raksasa pemakan

daging. Namanya diambil dari nama

sebuah daerah di Kanada tempat

fosilnya ditemukan.

Stegosaurus

Namanya kadal bergenting karena

lempengan sirap yang bercuatan sepanjang

punggungnya menyerupai genting rumah.

Tiranosaurus

Nama bintang buas ini berarti

kadal si raja lalim.

Deinonikhus

Artinya cakar mengerikan, dari bahasa

Yunani dan Latin. Yang dimaksud ialah

cakar sangat besar pada kaki belakang.

Sejarah Dinosaurus

Posted in arkeolog dengan kaitan (tags) on Juli 31, 2008 by firdaussains

Dinosaurus muncul pertama kali sekitar 225 juta tahun yang lalu pada Zaman Trias. Binatang ini terus hidup sampai Zaman Jura dan berkembang menjadi raksasa pada Zaman Kapur. Sekitar 65 juta tahun yang lalu, pada

akhir Zaman Kapur, dinosaurus lenyap dari muka bumi.

Bumi mulai terbentuk kira-kira 4,5 milyar

tahun yang

Bumi mulai terbentuk kira-kira 4,5 milyar

tahun yang lalu. Makhluk hidup muncul

sekitar 3,5 milyar yang lalu.

lalu. Makhluk hidup muncul

sekitar 3,5 milyar yang lalu.

Sampai

Sampai 600 juta tahun silam yang ada baru

binatang sederhana seperti bunga karang

dan ubur-ubur.

600 juta tahun silam yang ada baru

binatang sederhana seperti bunga karang

dan ubur-ubur.

Invertebrata seperti trilobita hidup dari 570

juta hingga 300 juta tahun

Invertebrata seperti trilobita hidup dari 570

juta  hingga 300 juta tahun yang lalu

pada Masa Paleozoikum.

yang lalu

pada Masa Paleozoikum.

Binatang

Binatang bertulang belakang,

disebut vertebrata muncul pada Zaman Devon. Diantaranya ikan pertama.

bertulang belakang,

disebut vertebrata muncul pada Zaman Devon. Diantaranya ikan pertama.

Pada Zaman Karbon muncullah

tetumbuhan Amfibi sep

Pada Zaman Karbon muncullah

tetumbuhan Amfibi seperti katak

adalah binatang pertama yang merayapi daratan.

erti katak

adalah binatang pertama yang merayapi daratan.

Padhir Zaman Karbon ada amfibi lebih

banya

Pada akhir Zaman Karbon ada amfibi lebih

banyak lagi, dan reptilia pertama

mulai muncul.

k lagi, dan reptilia pertama

mulai muncul.

Pada awal Zaman Trias ada banyak

reptilia dan dinosaurus,

Pada awal Zaman Trias ada banyak

reptilia dan dinosaurus, bersama

dengan mamalia pertama.

bersama

dengan mamalia pertama.

Za

Zaman Jura adalah masa jaya dinosaurus ;

waktu itu ada banyak alosaurus,

stegosaurus dan apatosaurus.

man Jura adalah masa jaya dinosaurus ;

waktu itu ada banyak alosaurus,

stegosaurus dan apatosaurus.

Dinosaurus terus berevolusi. Pada Zaman

Kapur Tiranosaurus dan Tr

Dinosaurus terus berevolusi. Pada Zaman

Kapur Tiranosaurus dan Triseratops

muncul untuk pertama kali.

iseratops

muncul untuk pertama kali.

Semua dinosaurus sudah lenyap pada Masa

Kenozoikum, d

Kapur Tiranosaurus dan Triseratops

muncul untuk pertama kali.

Semua dinosaurus sudah lenyap pada Masa

Kenozoikum, dan sudah ada mamalia besar

seperti misalnya mamut.

an sudah ada mamalia besar

seperti misalnya mamut.

Biji Berusia 2000 Tahun Masih Bisa Tumbuh

Posted in sains dengan kaitan (tags) on Juli 30, 2008 by firdaussains

Methuselah, saat berumur 26 bulan. Credit: Photo by Guy Eisner/Courtesy of Science

Jumat, 13 Juni 2008 | 21:33 WIB

WASHINGTON, JUMAT – Sekilas, palem setinggi 1,2 meter yang berusia tiga tahun ini tak begitu istimewa. Namun, tumbuhan yang disebut Methuselah tersebut sangat bernilai karena tumbuh dari sebuah biji berusia 2000 tahun.

Tumbuhan tersebut mungkin memecahkan rekor sebagai tumbuhan yang berasal dari biji tertua di dunia. Sebab, tumbuhan dan biji tertua selama ini dipegang sebuah tumbuhan teratai yang berasal dari biji berusia 1300 tahun.

Tunasnya pertama kali muncul tahun 2005 dari biji yang ditemukan di Israel tepatnya situs Masada yang dikenal sebagai lokasi pelarian orang-orang Yahudi yang memilih bunuh diri daripada ditangkap tentara Romawi. Umur 2000 tahun diketahui dari hasil pengukuran radiokarbon.

Sallon, direktur Pusat Riset Kedokteran Alami Louis L Borick di Organisasi Kedokteran Hadassah Israel melaporkan perkembangan terakhir tumbuhan langka tersebut dalam jurnal Scinece edisi terbaru. Para peneliti tengah berupaya menguak informasi sebanya mungkin mengenai tumbuhan tersebut termasuk potensi khasiatnya.

“Salah satu tujuan proyek penelitian kami adalah menguak kembali manfaatnya di masa lalu sampai menanamnya sehingga tersedia banyak pasokan,” ujar Sallon.  Satu hal penting yang belum diketahui tentang tumbuhan tersebut adalah jenis kelaminnya, apakah jantan atau betina. Sebab, jenis palem-paleman seperti ini biasanya baru dapat dibedakan jenis kelaminnya setelah berumur 6-7 tahun.

Meski demikian, para peneliti telah mempelajari DNA tumbuhan tersebut. Mereka menyimpulkan bahwa gennya hanya mewarisi setengah gen palem modern yang masih banyak tumbuh di Israel saat ini.

Sallon mengatakan masih besar harapan untuk mempertahankan plasma nutfahnya tidak hanya untuk sebagai sumber makanan namun obat-obatan.  Salah satu program yang dipimpinnya, Proyek Tanaman Obat Timur Tengah sedang bekerja keras untuk menanam tumbuhan tesebut di wilayah yang cocok.
WAH
Sumber : AP

Sumber : www.kompas.com

Last Updated ( Thursday, 19 June 2008 )

Ilmuwan Jepang Bikin DNA Buatan

Posted in sains dengan kaitan (tags) , on Juli 30, 2008 by firdaussains
Ilustrasi struktur DNA yang berbentuk spiral ganda (double helix).

Senin, 7 Juli 2008 | 15:32 WIB

JAKARTA, SENIN – Para pakar kimia Jepang mengklaim telah berhasil menyusun DNA buatan dari molekul-molekul organik. Terobosan ini menjanjikan harapan baru untuk mengembangkan sejumlah teknologi tinggi. Misalnya, untuk mengembangkan terapi gen yang lebih akurat dan sesuai sasaran. DNA buatan juga menjadi kunci pengembangan komputer masa depan yang berbasis nanoteknologi.

DNA yang dikenal sebagai rangkaian molekul dalam bentuk spiral ganda (double helix) merupakan cetak biru kehidupan. Perannya sangat penting karena mengendalikan semua fungsi dalam tubuh makhluk hidup.

Secara alami, DNA tersusun dari empat jenis basa. DNA buatan yang dibuat para peneliti di Universitas Toyama, Jepang, juga tersusun dari empat jenis basa yang meniru DNA alami. Rangkaian basa di dalam medium gula membentuk struktur spiral ganda seperti DNA sebenarnya.

Para imuwan sudah mencoba merangkai DNA ke dalam sirkuit elektronika sederhana. Sejumlah ilmuwan juga bertahun-tahun mencoba meniru DNA buatan untuk memanfaatkan kemampuannya menyimpan informasi yang sangat kompleks, tapi terstruktur. Seperti DNA, arah spiral berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Para peneliti bahkan dapat membuat spiral rangkap tiga.

Struktur kimia yang unik dan sangat stabil ini sangat memungkinkan digunakan untuk mengembangkan berbagai material dan aplikasi bioteknologi. Demikian kesimpulan para peneliti yang akan memublikasikannya dalam Journal of the American Chemical Society edisi 23 Juli 2008.

WAH
Sumber : LIVESCIENCE

HAGI YULIA SUGEHA: MENGUNGKAP RAHASIA SIDAT

Posted in Uncategorized on Juli 30, 2008 by firdaussains

Suara Pembaruan (3 Juni 2008)

Tadinya ia ingin menjadi dokter. Namun, ketika mendaftar di Universitas Sam Ratulangi Manado, ia malah diterima di Fakultas Perikanan dan Kelautan, di Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Siapa sangka, jalan itu memang harus ia tempuh, jalan kehidupan yang bahkan mengantarkannya menjadi salah satu peneliti terbaik di Indonesia.

Peneliti terbaik itu adalah Hagi Yulia Sugeha (36). Wanita kelahiran Kotamobagu, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara itu, terpilih meraih gelar tersebut pada 2006 dalam Pemilihan Peneliti Muda Indonesia XII. Gelar itu diperolehnya dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk kategori bidang ilmu pengetahuan alam, dengan penelitian bioekologi sidat.

Sidat dikenal juga dengan nama belut, atau unagi dalam bahasa Jepang. Sidat termasuk kategori makanan mewah di Jepang, dan setiap tahun negara itu mengimpor sekitar 500.000 ton dari RRT dan Vietnam.

Hagi, peneliti di bidang sumber daya laut di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, mengatakan sejak SMA ia memiliki minat tinggi di bidang biologi. Ia sebenarnya tertarik untuk mempelajari anatomi tubuh manusia. Namun, cita-citanya berbelok ketika tidak diterima di fakultas kedokteran.

Ketika dijumpai di kantornya di Pusat Penelitian Oseanografi Jalan Pasir Putih 1, Ancol Timur Jakarta Utara, Hagi yang ramah dengan bersemangat bercerita seputar pekerjaan dan pengalamannya selama meneliti. Hagi yang mendapat beasiswa S2 dari YAAB Orbit (Yayasan Anak Asuh Beasiswa Orangtua Bimbing Terpadu) dari ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) menjelaskan, bioekologi sidat yang menjadi kajian penelitiannya bermanfaat bagi dunia ilmiah, masyarakat awam, dan juga pemerintah.

Lulusan S3 Universitas Tokyo itu sedang meneliti mengenai apa sebenarnya sidat itu, serta tempat pemijahan sidat tropis. Sampai sekarang penelitiannya belum tuntas. Jika penelitian tersebut berhasil, informasi itu akan bermanfaat langsung bagi dunia ilmiah khususnya.

Selain itu, hasil penelitian akan bermanfaat bagi masyarakat awam. Dengan mengetahui informasi mengenai apa, bagaimana, di mana pemijahan sidat tropis, akan sangat berharga bagi masyarakat yang membudidayakannya.

Keberhasilan budi daya tentu dapat memberi keuntungan bukan hanya bagi masyarakat pembudi daya, melainkan juga bagi pemerintah. Sidat potensial diekspor. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menangkap sidat dari alam, melainkan juga mampu mengembangkannya di lingkungan yang cocok di alam. Informasi lengkap yang diperoleh dari penelitian sidat juga berguna bagi pemerintah dalam menetapkan peraturan yang berkaitan dengan reklamasi pantai atau pembangunan di wilayah sekitar perairan agar tidak mengganggu aktivitas migrasi sidat.

Dana Terbatas

Hagi, kelahiran 30 Desember 1971, bergabung dengan LIPI pada 2003. Hingga saat ini ia bersama timnya telah berhasil mendata sembilan spesies sidat di Indonesia. Spesies sidat tersebut Anguilla (A) borneensis, A obscura, A marmorata, A celebesensis, A bicolor pacifica, A bicolor bicolor, A megastoma, A interioris, A nebulosa nebulosa. Hagi menelitinya selama kurun 2004-2007, sepenuhnya didanai LIPI.

Penelitian dilakukan di Sulawesi lalu ke Jawa, Kalimantan, Sumatera, Halmahera, sampai Papua, secara serentak. Ia melibatkan beberapa universitas seperti Univesitas Andalas Padang, Universitas Indonesia Depok, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Sam Ratulangi Manado, Universitas Tadulako Palu, dan Universitas Negeri Papua Manokwari.

Penelitian yang tadinya dirancang untuk satu tahun hanya dapat berlangsung enam bulan karena keterbatasan dana. Beruntung, karena beberapa panelis lomba menilai materi penelitiannya menarik, Hagi pun diminta melanjutkan penelitian. Proposal yang diajukan perempuan yang sering berkolaborasi dengan Profesor Katsumi Tsukamoto dari Universitas Tokyo itu pun disetujui.

Pada 2008-2010, Hagi lebih menekankan penelitian ke genetika dan populasi sidat tropis di perairan Indonesia. Penelitian itu kembali didanai LIPI. Proposal Hagi berhasil lolos seleksi setelah melalui kompetisi dengan 15 proposal dari tim lain dalam LIPI juga. Dari 15 proposal tersebut, hanya lima proposal termasuk milik Hagi yang lolos seleksi.

Hagi mengakui, dari tahun ke tahun pendanaan untuk penelitian menurun. Proposal yang disetujui juga menurun. “Walaupun penelitian saya diplot sesuai rencana untuk tiga tahun ke depan, belum tentu full. Setiap tahun diseleksi lagi, kalau hasilnya bagus dan ada dana, tahun depan bisa dilanjutkan. Walaupun hasil bagus, kalau dana sedikit, pasti ada skala prioritas. Siapa yang terbaik, itu yang didanai,” ujarnya.

Tentu banyak cerita menarik yang dialami Hagi selama meneliti dalam kurun waktu yang lumayan panjang. Satu pengalaman yang tak terlupakan adalah penelitian di Poso, Sulawesi Tengah, 2001-2002.

Saat itu Poso sedang genting karena dilanda konflik. Hagi berterus terang tidak mengetahui kondisi terakhir daerah itu sebelum berangkat. Apalagi Poso sedang tenang ketika ia tiba. Hagi yang datang bersama asisten Profesor Katsumi dari Jepang, hanya melihat sisa-sisa kerusuhan.

Wanita yang senang membaca itu hanya bisa tercenung melihat sisa-sisa kebakaran yang melanda Kota Poso. Ia bahkan sempat melihat tengkorak-tengkorak di drum-drum di pinggir jalan. “Saya tidak tahu itu benar-benar tengkorak atau bukan,” katanya, mengenang.

Ia dan temannya bahkan harus melalui pemeriksaan tiap satu kilometer jika ingin terus melanjutkan perjalanan. Hagi bersama seniornya dari Jepang saat itu naik kendaraan bersama dua sopir yang mengemudikan bergantian.

Sesampai di Tentena, tempat Danau Poso berada, kenalan Hagi yang bekerja di Departemen Kelautan dan Perikanan menyangkanya sudah tewas, dibantai pemberontak yang bersembunyi di hutan sekitar Kota Poso. Rupanya peristiwa tragis itu menimpa rombongan lain yang juga berjumlah empat orang dan menggunakan kendaraan tipe yang sama.

“Saya mujur,” ujar Hagi, yang mengaku selalu bersyukur kepada Tuhan jika mengingat peristiwa itu. Yang pasti, semenjak kejadian itu, Hagi tidak lagi diizinkan dosen pembimbingnya melanjutkan penelitian lapangan di Poso.

Meski demikian, penelitian Hagi sukses. Timnya berhasil menangkap jenis sidat Anguilla marmorata sepanjang 1,72 meter seberat 11 kilogram pada tahun 2002 di Danau Poso. Temuan itu diperkuat dua kali penelitian menggunakan kapal riset Baruna Jaya VII.

“Itulah. Kadang peneliti tidak berpikir logis. Kadang nekat. Kadang berpikiran yang penting mendapatkan data, tidak memikirkan keamanan,” tutur Hagi yang memiliki moto bekerja dan berdoa.

Menikmati

Hagi menuturkan, kualitas penelitian di Indonesia harus terus ditingkatkan, kuantitas apalagi kualitas. Ilmu dasar harus diperkuat untuk masuk ke bioteknologi.

Ia mengakui, buku teks pengetahuan dasar biologi di Indonesia masih berupa hasil-hasil penelitian dari daerah organisme di garis lintang tinggi. Padahal, kondisi perairan kita berbeda dari kondisi perairan di wilayah itu. “Untuk membandingkan boleh, tapi jangan begitu saja menyerap. Untuk bisa mengarah ke bioteknologi kita harus tahu dulu organismenya. Setelah tahu, baru meningkat ke bagaimana kita mengolahnya jadi sesuatu yang kita inginkan,” tuturnya.

Ia memandang penting membuat panduan sendiri, sehingga tidak bergantung pada panduan dari luar. Publikasi ilmiah, menurut Hagi, juga harus ditingkatkan, hingga mendapatkan pengakuan masyarakat ilmiah di tingkat dunia. Hagi menilai peneliti Indonesia masih jarang menyentuh publikasi ilmiah. Rata-rata hanya berhenti sampai tingkat laporan, paling banter jurnal dalam negeri.

“Saya selalu ingin tahu. Saya menikmati berkutat dengan dunia penelitian dan saya didanai. Tidak semua orang bisa mendapat kesempatan yang sama. Sejak kecil ayah mengajarkan untuk selalu senang dengan pengetahuan. Membaca itu pengetahuan, kan?” ujar Hagi.

Perempuan yang juga hobi memasak itu menuturkan, banyak temannya bertanya, kenapa ia terus berkecimpung di dunia penelitian. Hagi yang mendapat tawaran menempuh post doctoral dari Jepang itu meyakini apa yang dilaluinya sekarang adalah jalan diberikan Tuhan kepadanya. Apalagi ketika ia memohon beasiswa atau dana, ia mendapatkannya. Bagi Hagi, Tuhan membukakan jalan.

“Kalau saudara saya yang lain, sekolah, kemudian kerja, lalu selesai. Saya mencoba untuk lebih spesifik. Saya ingin lebih mendalami bidang yang saya tekuni. Kalau bisa suatu saat, menjadi ahli di bidangnya,” katanya, optimistis

DITEMUKAN RUMPUT LAUT SARGASSUM MELIMPAH DI SERAM TIMUR

Posted in sains dengan kaitan (tags) , on Juli 30, 2008 by firdaussains

Sumber : KapanLagi.com (22 April 2008)

Tim Ekspedisi LIPI Ambon berhasil menemukan hamparan rumput laut jenis Eucheuma Sargassum dalam jumlah melimpah yang tumbuh secara alamiah di perairan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Konservasi Sumber Daya Laut LIPI Ambon, Pamudji, di Ambon, Selasa.

Ekspedisi Widya Nusantara (E-WIN) yang dilakukan LIPI Ambon, pada Juli tahun 2007 menyatakan komoditi rumput laut jenis Eucheuma Sargassum bernilai ekonomis dan menjadi rebutan di pasaran dunia.

“Sejauh ini belum dikelola optimal oleh masyarakat setempat dan hanya dimanfaatkan untuk konsumsi sehari-hari. Padahal rumput laut jenis ini paling laku di pasaran dunia karena menjadi bahan dasar industri kosmetik dan farmasi karena mengandung kadar alginat yang sangat tinggi,” katanya.

Ekspedisi itu pun menemukan kondisi air laut yang bersih dan bebas dari pencemaran lingkungan, serta kadar air yang sesuai memungkinkan rumput laut ini tumbuh dan berkembang secara alamiah dengan baik, di samping bebas dari gangguan predator.

Sehubungan dengan itu dia menghimbau Pemprov Maluku maupun Pemkab SBT untuk mulai melirik potensi sumber daya hayati laut ini untuk dikembangkan dalam skala besar, mengingat pengembangannya tidak membutuhkan modal besar dan waktu lama, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Ini peluang besar bagi Pemprov Maluku dan Pemkab SBT untuk mengarahkan masyarakat guna mengembangkannya bagi peningkatan kesejahteraan mereka di masa mendatang, tentunya dengan menjaga ekosistem yang ada,” katanya.

E-WIN 2007 yang dilakukan LIPI Ambon, menurut Pamudji, sebenarnya dipusatkan di Kepulauan Raja Ampat, namun atas permintaan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, ekspedisi tersebut dilakukan pula di wilayah pesisir Kabupaten SBT dengan tujuan untuk melihat sejauh mana potensi perairan yang ada di wilayah itu.

Kendati tidak menemukan jenis baru (new species) biota laut maupun terestrial, namun banyak ditemukan biota-biota yang belum pernah tercatat selama ini, di wilayah Maluku, sedangkan di wilayah Raja Ampat, beberapa biota yang diduga species baru telah ditemukan, baik flora maupun faunanya. (kpl/rsd)