Suara Pembaruan (3 Juni 2008)
Tadinya ia ingin menjadi dokter. Namun, ketika mendaftar di Universitas Sam Ratulangi Manado, ia malah diterima di Fakultas Perikanan dan Kelautan, di Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Siapa sangka, jalan itu memang harus ia tempuh, jalan kehidupan yang bahkan mengantarkannya menjadi salah satu peneliti terbaik di Indonesia. 
Peneliti terbaik itu adalah Hagi Yulia Sugeha (36). Wanita kelahiran Kotamobagu, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara itu, terpilih meraih gelar tersebut pada 2006 dalam Pemilihan Peneliti Muda Indonesia XII. Gelar itu diperolehnya dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk kategori bidang ilmu pengetahuan alam, dengan penelitian bioekologi sidat.
Sidat dikenal juga dengan nama belut, atau unagi dalam bahasa Jepang. Sidat termasuk kategori makanan mewah di Jepang, dan setiap tahun negara itu mengimpor sekitar 500.000 ton dari RRT dan Vietnam.
Hagi, peneliti di bidang sumber daya laut di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, mengatakan sejak SMA ia memiliki minat tinggi di bidang biologi. Ia sebenarnya tertarik untuk mempelajari anatomi tubuh manusia. Namun, cita-citanya berbelok ketika tidak diterima di fakultas kedokteran.
Ketika dijumpai di kantornya di Pusat Penelitian Oseanografi Jalan Pasir Putih 1, Ancol Timur Jakarta Utara, Hagi yang ramah dengan bersemangat bercerita seputar pekerjaan dan pengalamannya selama meneliti. Hagi yang mendapat beasiswa S2 dari YAAB Orbit (Yayasan Anak Asuh Beasiswa Orangtua Bimbing Terpadu) dari ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) menjelaskan, bioekologi sidat yang menjadi kajian penelitiannya bermanfaat bagi dunia ilmiah, masyarakat awam, dan juga pemerintah.
Lulusan S3 Universitas Tokyo itu sedang meneliti mengenai apa sebenarnya sidat itu, serta tempat pemijahan sidat tropis. Sampai sekarang penelitiannya belum tuntas. Jika penelitian tersebut berhasil, informasi itu akan bermanfaat langsung bagi dunia ilmiah khususnya.
Selain itu, hasil penelitian akan bermanfaat bagi masyarakat awam. Dengan mengetahui informasi mengenai apa, bagaimana, di mana pemijahan sidat tropis, akan sangat berharga bagi masyarakat yang membudidayakannya.
Keberhasilan budi daya tentu dapat memberi keuntungan bukan hanya bagi masyarakat pembudi daya, melainkan juga bagi pemerintah. Sidat potensial diekspor. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menangkap sidat dari alam, melainkan juga mampu mengembangkannya di lingkungan yang cocok di alam. Informasi lengkap yang diperoleh dari penelitian sidat juga berguna bagi pemerintah dalam menetapkan peraturan yang berkaitan dengan reklamasi pantai atau pembangunan di wilayah sekitar perairan agar tidak mengganggu aktivitas migrasi sidat.
Dana Terbatas
Hagi, kelahiran 30 Desember 1971, bergabung dengan LIPI pada 2003. Hingga saat ini ia bersama timnya telah berhasil mendata sembilan spesies sidat di Indonesia. Spesies sidat tersebut Anguilla (A) borneensis, A obscura, A marmorata, A celebesensis, A bicolor pacifica, A bicolor bicolor, A megastoma, A interioris, A nebulosa nebulosa. Hagi menelitinya selama kurun 2004-2007, sepenuhnya didanai LIPI.
Penelitian dilakukan di Sulawesi lalu ke Jawa, Kalimantan, Sumatera, Halmahera, sampai Papua, secara serentak. Ia melibatkan beberapa universitas seperti Univesitas Andalas Padang, Universitas Indonesia Depok, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Sam Ratulangi Manado, Universitas Tadulako Palu, dan Universitas Negeri Papua Manokwari.
Penelitian yang tadinya dirancang untuk satu tahun hanya dapat berlangsung enam bulan karena keterbatasan dana. Beruntung, karena beberapa panelis lomba menilai materi penelitiannya menarik, Hagi pun diminta melanjutkan penelitian. Proposal yang diajukan perempuan yang sering berkolaborasi dengan Profesor Katsumi Tsukamoto dari Universitas Tokyo itu pun disetujui.
Pada 2008-2010, Hagi lebih menekankan penelitian ke genetika dan populasi sidat tropis di perairan Indonesia. Penelitian itu kembali didanai LIPI. Proposal Hagi berhasil lolos seleksi setelah melalui kompetisi dengan 15 proposal dari tim lain dalam LIPI juga. Dari 15 proposal tersebut, hanya lima proposal termasuk milik Hagi yang lolos seleksi.
Hagi mengakui, dari tahun ke tahun pendanaan untuk penelitian menurun. Proposal yang disetujui juga menurun. “Walaupun penelitian saya diplot sesuai rencana untuk tiga tahun ke depan, belum tentu full. Setiap tahun diseleksi lagi, kalau hasilnya bagus dan ada dana, tahun depan bisa dilanjutkan. Walaupun hasil bagus, kalau dana sedikit, pasti ada skala prioritas. Siapa yang terbaik, itu yang didanai,” ujarnya.
Tentu banyak cerita menarik yang dialami Hagi selama meneliti dalam kurun waktu yang lumayan panjang. Satu pengalaman yang tak terlupakan adalah penelitian di Poso, Sulawesi Tengah, 2001-2002.
Saat itu Poso sedang genting karena dilanda konflik. Hagi berterus terang tidak mengetahui kondisi terakhir daerah itu sebelum berangkat. Apalagi Poso sedang tenang ketika ia tiba. Hagi yang datang bersama asisten Profesor Katsumi dari Jepang, hanya melihat sisa-sisa kerusuhan.
Wanita yang senang membaca itu hanya bisa tercenung melihat sisa-sisa kebakaran yang melanda Kota Poso. Ia bahkan sempat melihat tengkorak-tengkorak di drum-drum di pinggir jalan. “Saya tidak tahu itu benar-benar tengkorak atau bukan,” katanya, mengenang.
Ia dan temannya bahkan harus melalui pemeriksaan tiap satu kilometer jika ingin terus melanjutkan perjalanan. Hagi bersama seniornya dari Jepang saat itu naik kendaraan bersama dua sopir yang mengemudikan bergantian.
Sesampai di Tentena, tempat Danau Poso berada, kenalan Hagi yang bekerja di Departemen Kelautan dan Perikanan menyangkanya sudah tewas, dibantai pemberontak yang bersembunyi di hutan sekitar Kota Poso. Rupanya peristiwa tragis itu menimpa rombongan lain yang juga berjumlah empat orang dan menggunakan kendaraan tipe yang sama.
“Saya mujur,” ujar Hagi, yang mengaku selalu bersyukur kepada Tuhan jika mengingat peristiwa itu. Yang pasti, semenjak kejadian itu, Hagi tidak lagi diizinkan dosen pembimbingnya melanjutkan penelitian lapangan di Poso.
Meski demikian, penelitian Hagi sukses. Timnya berhasil menangkap jenis sidat Anguilla marmorata sepanjang 1,72 meter seberat 11 kilogram pada tahun 2002 di Danau Poso. Temuan itu diperkuat dua kali penelitian menggunakan kapal riset Baruna Jaya VII.
“Itulah. Kadang peneliti tidak berpikir logis. Kadang nekat. Kadang berpikiran yang penting mendapatkan data, tidak memikirkan keamanan,” tutur Hagi yang memiliki moto bekerja dan berdoa.
Menikmati
Hagi menuturkan, kualitas penelitian di Indonesia harus terus ditingkatkan, kuantitas apalagi kualitas. Ilmu dasar harus diperkuat untuk masuk ke bioteknologi.
Ia mengakui, buku teks pengetahuan dasar biologi di Indonesia masih berupa hasil-hasil penelitian dari daerah organisme di garis lintang tinggi. Padahal, kondisi perairan kita berbeda dari kondisi perairan di wilayah itu. “Untuk membandingkan boleh, tapi jangan begitu saja menyerap. Untuk bisa mengarah ke bioteknologi kita harus tahu dulu organismenya. Setelah tahu, baru meningkat ke bagaimana kita mengolahnya jadi sesuatu yang kita inginkan,” tuturnya.
Ia memandang penting membuat panduan sendiri, sehingga tidak bergantung pada panduan dari luar. Publikasi ilmiah, menurut Hagi, juga harus ditingkatkan, hingga mendapatkan pengakuan masyarakat ilmiah di tingkat dunia. Hagi menilai peneliti Indonesia masih jarang menyentuh publikasi ilmiah. Rata-rata hanya berhenti sampai tingkat laporan, paling banter jurnal dalam negeri.
“Saya selalu ingin tahu. Saya menikmati berkutat dengan dunia penelitian dan saya didanai. Tidak semua orang bisa mendapat kesempatan yang sama. Sejak kecil ayah mengajarkan untuk selalu senang dengan pengetahuan. Membaca itu pengetahuan, kan?” ujar Hagi.
Perempuan yang juga hobi memasak itu menuturkan, banyak temannya bertanya, kenapa ia terus berkecimpung di dunia penelitian. Hagi yang mendapat tawaran menempuh post doctoral dari Jepang itu meyakini apa yang dilaluinya sekarang adalah jalan diberikan Tuhan kepadanya. Apalagi ketika ia memohon beasiswa atau dana, ia mendapatkannya. Bagi Hagi, Tuhan membukakan jalan.
“Kalau saudara saya yang lain, sekolah, kemudian kerja, lalu selesai. Saya mencoba untuk lebih spesifik. Saya ingin lebih mendalami bidang yang saya tekuni. Kalau bisa suatu saat, menjadi ahli di bidangnya,” katanya, optimistis